Di tengah margin bunga bersih (net interest margin/NIM) yang terus menurun, perbankan terus menggenjot transaksi super app untuk mendongkrak perolehan pendapatan berbasis komisi (fee based income/FBI). Hal tersebut juga sebagai kompensasi pendapatan bunga yang melandai, sehingga laba yang diraup tetap besar. Bank Indonesia (BI) mencatat pembayaran digital mencapai 34,5 miliar transaksi per Desember 2024 atau tumbuh 36,1% (yoy) yang didukung oleh seluruh komponennya. Volume transaksi pada aplikasi mobile melesat 39,1% (yoy), demikian pula volume transaksi pada internet yang tumbuh sebesar 4,4% (yoy) pada tahun 2024. Pembayaran digital diproyeksikan meningkat 52,3% (yoy) pada tahun 2025.
Di tengah margin bunga bersih (net interest margin/NIM) yang terus menurun, perbankan terus menggenjot transaksi super app untuk mendongkrak perolehan pendapatan berbasis komisi (fee based income/FBI). Hal tersebut juga sebagai kompensasi pendapatan bunga yang melandai, sehingga laba yang diraup tetap besar.
Bank Indonesia (BI) mencatat pembayaran digital mencapai 34,5 miliar transaksi per Desember 2024 atau tumbuh 36,1% (yoy) yang didukung oleh seluruh komponennya. Volume transaksi pada aplikasi mobile melesat 39,1% (yoy), demikian pula volume transaksi pada internet yang tumbuh sebesar 4,4% (yoy) pada tahun 2024. Pembayaran digital diproyeksikan meningkat 52,3% (yoy) pada tahun 2025.
Seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) yang terus mengembangkan BRImo, super app yang menjadi andalan masyarakat untuk kebutuhan layanan keuangan. Hingga akhir Desember 2024, jumlah pengguna BRImo telah mencapai 38,61 juta, atau tumbuh sebesar 22,12% year on year (yoy).
Total transaksi yang diproses melalui BRImo mencapai 4,34 miliar transaksi, meningkat sebanyak 40,54% secara year on year (yoy). Dari sisi nilai, transaksi melalui BRImo tercatat sebesar Rp 5.596 triliun atau naik 34,57% (yoy). Sementara itu BRImo memberikan kontribusi fee based income dari sebesar Rp 2,97 triliun atau tumbuh sebesar 22,19% (yoy). Capaian ini menunjukkan keberhasilan BRI dalam mengoptimalkan ekosistem digital untuk memperkuat diversifikasi pendapatan berbasis jasa.
“Transformasi digital di BRI tidak hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang bagaimana BRI menghadirkan layanan yang lebih relevan, mudah diakses, dan inovatif bagi masyarakat. BRImo adalah contoh nyata dari upaya BRI untuk memperkuat retail banking dengan solusi yang efisien dan aman, sekaligus mendekatkan layanan keuangan kepada nasabah secara lebih inklusif,” tutur Direktur Retail Funding & Distribution BRI Andrijanto, akhir pekan lalu.
Dia menegaskan bahwa super app BRImo merupakan wujud transformasi digital BRI yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat modern. Pada tahun 2025, pengembangan BRImo difokuskan pada penyediaan layanan yang semakin inovatif dan relevan bagi nasabah.
Di sisi lain, sejak diluncurkan pada Oktober 2021, Livin’ by Mandiri telah menunjukkan pertumbuhan yang positif. Hingga akhir Desember 2024, pengguna aplikasi Livin’ by Mandiri menembus angka 29,3 juta pengguna, naik 29% (yoy). Dari jumlah tersebut, total nilai transaksi Livin’ by Mandiri telah mencapai Rp 4.009 triliun dengan frekuensi 3,29 miliar transaksi.
Bank Mandiri semakin menegaskan komitmennya untuk menghadirkan layanan finansial yang menyeluruh dan terintegrasi bagi masyarakat Indonesia. Sebagai bagian dari strategi memperkuat ekosistem digital, Bank Mandiri resmi berkolaborasi dengan Mindstores dalam menghadirkan fitur quick commerce Alfamart di aplikasi Livin’ by Mandiri.
SVP Transaction Banking Retail Sales Bank Mandiri Erin Young menjelaskan, dengan kehadiran fitur baru ini, lebih dari 29 juta pengguna Livin’ by Mandiri kini dapat menikmati pengalaman berbelanja yang lebih mudah dan praktis. Tanpa perlu beralih ke aplikasi lain atau melakukan registrasi tambahan, nasabah bisa langsung membeli kebutuhan pokok seperti makanan, minuman, hingga barang kebutuhan rumah tangga melalui fitur Sukha di Livin’.
Tak hanya itu, pengiriman produk dilakukan dengan cepat berkat jaringan gerai Alfamart yang luas, memastikan barang tiba dari gerai terdekat ke lokasi pengguna. “Kolaborasi ini merupakan langkah strategis Bank Mandiri untuk memperluas layanan digitalnya sekaligus memberikan nilai tambah yang nyata bagi nasabah,” terang Erin.
Terpisah, Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Royke Tumilaar mengatakan, ke depan perbankan akan menjadi transaction banking, tidak hanya sebagai penghimpun dana dan penyalur kredit. Oleh karena itu, BNI menghadirkan super app Wondr. “Sekarang transactional banking, karena itu yang akan menjaga cost of fund bisa terjaga dengan baik. Itu proses transformasi digital, bank mulai mengarah transactional banking, mau nggak mau bank beralih ke sana,” papar Royke.
Royke menyampaikan, ada lima fokus utama yang harus BNI optimalkan tahun ini antara lain, transformasi kantor cabang; transformasi human capital; pertumbuhan DPK khususnya tabungan dari transaksi; memperkuat ekosistem digital dalam meningkatkan CASA dan fee based income; serta melanjutkan perbaikan kualitas kredit. “Diperlukan kolaborasi yang tinggi untuk mencapai tujuan tersebut,” tutur Royke.
Selain bank konvensional, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) juga mendorong super app BYOND dan sejumlah produk untuk memperoleh FBI. Per November 2024 BSI memperoleh FBI Rp 4,99 triliun, tumbuh 34% (yoy). Fee based ratio BSI juga bertumbuh menjadi 18,04% per November 2024 dibandingkan 15,64% per November 2023. Saat awal merger 2021 fee based ratio BSI sekitar 14,76%. “Potensi penumbuhan FBI BSI masih sangat besar, di bank besar fee based ratio bisa mencapai di atas 20%,” kata Direktur Keuangan dan Strategi BSI Ade Cahyo Nugroho.
Pertumbuhan fee based dari sisi digital juga termasuk mencatatkan pertumbuhan tinggi mencapai 25% (yoy) dengan total Rp 659 miliar. Secara perlahan transformasi digital mulai membuahkan hasil dari sisi pendapatan berbasis komisi.
Lebih lanjut Cahyo menjelaskan, BSI masih akan meningkatkan fee based dengan terus melanjutkan transformasi serta fokus pada produk holding ratio melalui produk champion. “Kami harapkan dengan adanya new super app BYOND by BSI serta strategi lain, kami dapat menumbuhkan pendapatan perusahaan yang pada akhirnya dapat memenuhi bottom line atau laba bersih perusahaan,” pungkas dia.